Tampilkan postingan dengan label listrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label listrik. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2013

Energi Nuklir Dalam Memenuhi Kebutuhan listrik Indonesia

- 0 komentar
Energi nuklir merupakanhasil dari reaksi yang terjadi pada inti atom.Densitas energi nuklir sangat tinggi,lebih tinggi dibandingkan dengan energi yang dihasilkan batubara ataupun minyak bumi:
� 1 kg uranium dapat menghasilkan energi
listrik sebesar 50.000 kWh bahkan dengan
proses lebih lanjut dapat mencapai
3.500.000 kWh.
� 1 kg batu bara menghasilkan energi sebesar
3 kWh
� 1 kg minyak bumi hanya dapat
menghasilkan energi sebesar 3 kWh 4 kWh.
� non Pada sebuah pembangkit listrik non-nuklir berkapasitas 1000 MWediperlukan bahan bakar :
� 2.600.000 ton batu bara atau
� 2.000.000 ton minyak bumi
� Pada pembangkit listrik tenaga nuklirdengan kapasitas listrik yang sama hanyamemerlukan 30 ton uranium dengan teras reaktor 10 m3

Artikel terkait :
1. Balada PLTN di Indonesia

2. Nuklir Penyelamat Peradaban

3. Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

4. PLTN = Revolusi Kebiasaan Indonesia

5. Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

6. Atasi Krisis Energi & Global Warming Dengan Teknologi Nuklir

7. Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

8. Status Nuklir Ekonomis, tetapi Membawa Bencana

9. PLTN, Teknologi Prospektif Untuk Masa Depan

10. Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

11. Reaktor Energi Nuklir

12. Energi Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik

13. PLTN tunjang Produksi Listrik Indonesia

14. Bahaya Radio Aktif dari PLTN

15. Resiko dan Masalah dari PLTN

16. Proses kerja PLTN sebagai pembangkit listrik

17. Pemanfaatan energi Nuklir dan reaksi energi nuklir

Krisis Energi dan PLTN di Indonesia

19. Reaksi dan Energi Nuklir

20. Sejarah penggunaan Energi nuklir

21. Energi Nuklir : Kelebihan dan Kelemahan

22. Energi nuklir dalam Memenuhi Listrik Indonesia

23. Prinsip kerja PLTN

24. PLTN di Indonesia

25. Sejarah singkat Pembangunan PLTN di Indonesia

26. Indonesia, Energi dan Teknologi Nuklir
[Continue reading...]

Minggu, 01 Desember 2013

Mobil Listrik BMWi Dijual Online

- 0 komentar


Sekarang, membeli mobil kita nggak perlu datang langsung ke dealernya lho.. Nggak percaya? Bayerische Motoren Werke alias BMW memprakarsai cara baru untuk membeli mobil yaitu lewat online. Dan produk yang akan segera dijualnya di ranah maya adalah deretan mobil listrik dari keluarga BMWi yang dipasarkan tahun depan.

Masing-masing dealer masih dapat berjualan secara konvensional, namun calon pembeli disediakan pilihan jika mereka enggan mendatangi showroom dan melakukan pembelian secara tradisional. Yang rencananya akan dipasarkan pertama kali adalah BMW i3 dengan bandrol sekitar $40,000 dan diramal bakal laris saat debutnya.

Penjualan lewat online memiliki tujuan untuk mempermudah customer untuk memilih, menelaah hingga membeli langsung di rumah dan yang kedua adalah, “langkah tersebut akan mengeliminir perbedaan harga antar dealer untuk menawarkan standarisasi harga,” jelas Board Member BMW, Ian Robertson.

BMWi merupakan inovasi BMW terhadap industry kendaraan dengan menghadirkan konsep mobil listrik dengan desain state of the art dan teknologi terkini yang dipadankan dengan elemen premium khas BMW. BMWi juga menerapkan teknologi baru yang tidak pernah diimplementasikan pada mobil produksi masal lainnya, seperti passenger cell dari carbon fiber reinforced plastic.


sumber
[Continue reading...]

Jumat, 22 November 2013

Peta Listrik RI Jadi Daerah Tergelap Di Bumi

- 0 komentar

Peta dari citra satelit menunjukkan negara dunia ketiga gelap gulita.

Peta konsumsi energi listrik dunia

VIVAnews - Dari daerah paling gemerlap hingga wilayah paling gelap di muka bumi. Hasil citra satelit menunjukkan peta penggunaan listrik dan konsumsi energi. Indonesia bersama negara dunia ketiga lainnya tertutup kegelapan.

Peta ini dibuat oleh ilmuwan Felix Pharand-DeschÍnes menggunakan data yang dikumpulkan dari citra satelit. Menurut Daily Mail, dia ingin membandingkan negara maju dengan dunia ketiga.

Negara dunia ketiga di Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian besar wilayah Asia tampak tertutup kegelapan. Di benua Asia, Jepang menjadi negara yang paling berkilau. Di pusat benua Asia, India, dan Australia jarang terlihat cahaya. Di Afrika, titik-titik cahaya hanya banyak terlihat dari Kairo hingga Nil di Mesir.

Di Indonesia, titik cahaya paling banyak terpusat di Pulau Jawa. Sementara, wilayah Timur Indonesia dikuasai kegelapan. Konsumsi energi di Indonesia tampak tidak merata. Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara Barat yang tampak berkilauan karena banyak mengonsumsi energi.

Pada malam hari, London menjadi kota yang paling mengkilap dengan taburan titik cahaya pada peta. Bahkan, konsumsi energi London dapat menyalakan lampu di Irlandia hingga menjadi pertunjukkan cahaya.

Setiap tahun London mengonsumsi energi 150.000 gigawatt per jam. Konsumsi energi ibukota Inggris ini sama dengan konsumsi seluruh negara Portugal dan Yunani. Pihak yang melakukan kampanye penghematan telah memperingatkan bahwa 50 persen populasi Inggris tidak akan bisa melihat bintang pada langit malam karena "dikotori" polusi cahaya ini.  

Citra satelit menunjukkan Inggris dan negara lain di benua Eropa, seperti Paris dan Moskow, banyak mengonsumsi listrik untuk penerangan pada malam hari. Beberapa kota besar menghabiskan energi yang jauh lebih besar sehingga dari angkasa tampak gemerlap.
Amerika Serikat juga boros dalam penggunaan listrik. Wilayah timur di Houston, Texas, dan San Francisco, serta Los Angeles pada wilayah barat menunjukkan polusi cahaya parah. 

Peta dunia yang cantik berkilauan ini menunjukkan bangsa Barat bersalah karena membuang-buang energi. Wilayah ini menimbulkan polusi cahaya dalam skala yang mengejutkan.

Secara global, citra satelit ini menunjukkan negara Barat membuang-buang energi sementara wilayah lain berada dalam kegelapan. Ini menunjukkan negara maju yang kaya mengonsumsi energi jauh lebih banyak dibanding negara berkembang. Negara Barat memberikan kontribusi terbesar dalam polusi cahaya.
[Continue reading...]
 
Copyright © 2012. Asdaq Blog - Posts · Comments
Powered by Blogger